Apa Itu MBTI?
Mengapa Empat Huruf Bisa Terasa Sangat Menggambarkan Diri Kita?
"Aku INFJ."
"Aku ENFP."
"Aku INTJ."
Beberapa tahun terakhir, empat huruf itu semakin sering muncul di media sosial. Ada yang mencantumkannya di bio Instagram, ada yang menjadikannya bahan bercanda, bahkan ada perusahaan yang menggunakannya sebagai salah satu alat untuk mengenal kandidat karyawan.
Kalau kamu baru pertama kali mendengar MBTI, mungkin muncul pertanyaan sederhana.
"Kok cuma empat huruf bisa menjelaskan kepribadian seseorang?"
Jujur saja, dulu aku juga bertanya hal yang sama.
Dan mungkin... kamu juga.
Daripada buru-buru percaya atau buru-buru menolak, yuk kita kenalan dulu dengan MBTI. Karena memahami sesuatu selalu lebih menyenangkan daripada sekadar ikut tren.
Kalau kita mundur hampir seratus tahun ke belakang, cerita MBTI ternyata tidak dimulai dari internet.
Bahkan tidak dimulai dari dunia bisnis.
Semuanya berawal dari rasa penasaran tentang manusia.
Mengapa dua orang bisa menghadapi situasi yang sama tetapi bereaksi dengan cara yang sangat berbeda?
Mengapa ada orang yang merasa bersemangat ketika berada di tengah keramaian, sementara yang lain justru merasa tenang ketika memiliki waktu sendirian?
Mengapa ada yang lebih percaya pada logika, sementara yang lain lebih mengandalkan perasaan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang akhirnya melahirkan berbagai teori tentang kepribadian, termasuk MBTI.
Konsep ini dikembangkan oleh Katharine Cook Briggs dan Isabel Briggs Myers yang terinspirasi oleh pemikiran Carl Jung mengenai tipe-tipe psikologis.
Tujuannya sebenarnya sederhana.
Bukan memberi cap pada seseorang.
Tetapi membantu manusia memahami bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam melihat dan menjalani kehidupan.
Kalau dipikir-pikir, sejak kecil kita memang terbiasa mengelompokkan sesuatu.
Ini kucing.
Itu anjing.
Ini merah.
Itu biru.
Otak manusia memang senang mencari pola.
Bukan karena kita suka membatasi.
Tetapi karena pola membantu kita memahami dunia yang rumit.
Ketika dewasa, kebiasaan itu tetap ada.
Hanya objeknya yang berubah.
"Aku introvert."
"Aku extrovert."
"Aku INFJ."
"Aku ENTP."
Label-label itu sering kali membuat kita merasa,
"Oh... ternyata aku tidak sendirian."
Dan perasaan dipahami memang menyenangkan.
MBTI sendiri terdiri dari empat pasangan kecenderungan.
Bukan empat huruf yang muncul begitu saja.
Huruf pertama berbicara tentang bagaimana kita mendapatkan energi.
Sebagian orang merasa hidup ketika bertemu banyak orang.
Sebagian lain justru mengisi ulang energinya ketika memiliki waktu sendiri.
Huruf berikutnya berbicara tentang bagaimana kita menerima informasi.
Ada yang lebih percaya pada hal-hal yang nyata dan bisa diamati.
Ada pula yang lebih mudah melihat kemungkinan dan gambaran besar.
Lalu ada cara kita mengambil keputusan.
Sebagian lebih mengutamakan logika.
Sebagian lain lebih mempertimbangkan dampaknya bagi manusia.
Terakhir adalah cara kita menjalani hidup.
Ada yang nyaman dengan rencana.
Ada yang lebih menikmati spontanitas.
Gabungan dari empat kecenderungan inilah yang kemudian membentuk enam belas tipe MBTI.
Yang menarik, MBTI tidak mengatakan bahwa satu tipe lebih baik daripada tipe lainnya.
Tidak ada tipe yang paling pintar.
Tidak ada tipe yang paling sukses.
Tidak ada tipe yang paling spiritual.
Setiap tipe memiliki kelebihan.
Dan setiap tipe juga memiliki tantangannya sendiri.
Sama seperti kehidupan.
Namun seperti semua sistem mengenali diri, MBTI juga memiliki keterbatasan.
Kepribadian manusia bukan sesuatu yang beku.
Kita bertumbuh.
Belajar.
Terluka.
Pulih.
Lingkungan berubah.
Pengalaman hidup bertambah.
Karena itu tidak sedikit orang yang merasa hasil MBTI-nya berubah setelah bertahun-tahun.
Apakah berarti MBTI salah?
Belum tentu.
Bisa jadi manusianya memang sedang bertumbuh.
Di dunia psikologi sendiri, MBTI juga memiliki pendukung dan pengkritik.
Sebagian menganggapnya sebagai alat refleksi yang membantu.
Sebagian lain menilai validitas ilmiahnya masih memiliki keterbatasan jika digunakan untuk mengukur kepribadian secara mutlak.
Dan menurut kami...
tidak apa-apa.
Karena tidak semua alat harus menjawab semuanya.
Peta yang baik tetap berguna, meskipun ia bukan wilayah yang sebenarnya.
Di Bhumi, kami melihat MBTI seperti sebuah jendela.
Ia membantu kita melihat sebagian dari cara kita berpikir, mengambil keputusan, dan berinteraksi dengan dunia.
Tetapi manusia jauh lebih luas daripada empat huruf.
Pengalaman hidupmu.
Nilai yang kamu pegang.
Cara keluargamu membesarkanmu.
Luka yang pernah kamu alami.
Orang-orang yang kamu temui.
Semuanya ikut membentuk dirimu.
Karena itulah di Bhumi kami tidak hanya melihat MBTI.
Ada Life Path.
Human Design.
Weton.
BaZi.
Natal Chart.
Arcana.
Dan berbagai pendekatan lainnya.
Bukan karena satu sistem kurang lengkap.
Tetapi karena setiap sistem melihat manusia dari jendela yang berbeda.
Bayangkan kamu sedang melihat sebuah gunung.
Dari sisi timur, kamu melihat matahari terbit.
Dari sisi barat, kamu melihat matahari terbenam.
Dari utara, kamu melihat hutan.
Dari selatan, kamu melihat sungai.
Apakah salah satu pemandangan lebih benar?
Tidak.
Semuanya benar.
Hanya sudut pandangnya yang berbeda.
Begitu pula dengan berbagai sistem mengenali diri.
MBTI bukan satu-satunya cara melihat manusia.
Tetapi ia bisa menjadi salah satu awal yang baik.
Jadi...
kalau hari ini kamu baru mengetahui bahwa dirimu adalah INFJ, ENFP, ISTJ, atau tipe lainnya, jangan buru-buru merasa sudah selesai mengenal diri.
Anggap saja empat huruf itu seperti seseorang yang mengetuk pintu.
Setelah pintu itu terbuka, masih ada banyak ruangan lain yang belum kamu jelajahi.
Dan mungkin...
perjalanan mengenali diri memang tidak pernah benar-benar selesai.
Karena setiap pengalaman baru selalu mengajarkan sesuatu tentang siapa diri kita hari ini.
Pertanyaan untuk direnungkan
Kalau suatu hari hasil MBTI-mu berubah, apakah itu berarti kamu kehilangan jati dirimu?
Atau justru menunjukkan bahwa manusia memang terus bertumbuh?
Mungkin...
jawabannya ada pada perjalanan hidup yang sedang kamu jalani, bukan hanya pada empat huruf yang tertulis di layar.
Bhumi Amartya
Ruang untuk Pulang dan Kenali Diri.
Tags: MBTI; Tes Kepribadian